#Karya Bang Guntur Ttg Sejarah Bapak Para Nabi Hubungannya Dengan Kenyataan Israel Hari Ini

 


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dibaca saat sedang santai saja, karena tulisan ini cukup panjang. 

BAGIAN 1 

Api sudah dinyalakan, dan gelanggang sudah disiapkan. Nabi Ibrahim a.s. dimasukkan ke dalam api oleh Raja Namrud, seorang raja di Babilonia (sekarang berada di wilayah IRAQ), sekitar 1.800 tahun sebelum masehi. Gara-garanya, Nabi Ibrahim a.s. berdakwah kepada kaumnya (juga rajanya) untuk tidak lagi menyembah berhala; namun menyembah Allah SWT, Rabb seluruh alam. 

Singkat cerita, api tidak membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Beliau diselamatkan oleh Allah SWT, dan kemudian diperintahkan ber-HIJRAH ke Syam, dengan membawa serta ayahnya, istrinya (Sarah), dan keponakannya (Nabi Luth a.s.). Dimanakah letak Syam? Syam terletak di sebelah utara Babilonia. Dengan kondisi geopolitik saat ini, Syam terletak kurang lebih di wilayah yang sekarang menjadi SURIAH, LEBANON, YORDANIA, PALESTINA, dan ISRAEL. 

Nabi Ibrahim a.s. masuk ke Syam melalui wilayah Haran (sekarang berada di wilayah TURKI), dimana disini ayahnya meninggal dunia. Setelah beberapa lama tinggal di Haran, Nabi Ibrahim a.s. melanjutkan perjalanan ke negeri Syam di bagian yang disebut “Ardhu Kan’an” atau Tanah Kan’an. Dimana letak Tanah Kan’an? Letaknya kurang lebih di wilayah yang sekarang menjadi lokasi pertikaian PALESTINA - ISRAEL. Jadi, waktu Nabi Ibrahim a.s. berhijrah ke Tanah Kan’an, di lokasi tersebut telah ada bangsa Kan’an yang menempati tanah tersebut. 

Lalu, siapa bangsa Kan’an? Bangsa Kan’an adalah keturunan dari Kan’an bin Ham bin Nuh, cucu nabi Nuh dari anaknya yang bernama Ham yang selamat dari kejadian banjir besar, dan kemudian bermukim di wilayah Tanah Kan’an. 

Kembali ke Nabi Ibrahim a.s., pada suatu masa, terjadi kekeringan di wilayah Syam (Tanah Kan’an), dan Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk berhijrah ke Mesir.  Saat itu, Mesir dipimpin oleh seorang raja yang dikenal menggemari wanita cantik. Dan berita kecantikan Sarah, istri Nabi Ibrahim a.s. terdengar hingga ke sang raja, sehingga dipanggillah Nabi Ibrahim a.s.  ke hadapan sang raja. 

Di hadapan sang raja, Nabi Ibrahim a.s. mengakui bahwa Sarah adalah adiknya. Nabi Ibrahim a.s. tidak menyampaikan hal yang sebenarnya karena pada saat itu suatu hal yang umum jika ada seorang wanita yang diinginkan raja telah bersuami, maka suami tersebut akan dibunuh atau dipaksa menceraikan istrinya. 

Sang raja kemudian memanggil utusan untuk memanggil Sarah, dan sang raja yang terpesona dengan kecantikan Sarah kemudian mencoba menyentuh Sarah, namun tiba-tiba sang raja kesakitan (dalam HR. Bukhari disebutkan “tertimpa petaka”). Sang raja meminta Sarah mendoakan kesembuhannya kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan menyakitinya lagi. Sarah berdoa kepada Allah SWT, dan sang raja sembuh. Namun kemudian sang raja berusaha kembali menyentuh Sarah. Dan, kali ini sang raja kembali kesakitan. Sang raja kembali meminta Sarah berdoa kepada Allah SWT, dan kembali berjanji tidak akan menyakitinya. Sarah kembali berdoa kepada Allah SWT, dan sang raja kembali sembuh. Atas kejadian ini, sang raja kemudian mempersilakan Sarah kembali kepada Nabi Ibrahim a.s. dan menghadiahkan seorang budak kepada Sarah. Budak itu bernama Hajar. 

Sebagai catatan, pada masa itu, budak biasanya berasal dari kelompok atau kerajaan yang ditaklukkan oleh kelompok atau kerajaan lainnya. Dan ada sebuah riwayat yang menerangkan bahwa Hajar adalah putri dari seorang raja yang ditaklukkan oleh sang raja Mesir. 

Setelah beberapa lama bermukim di Mesir, Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah SWT untuk kembali ke Syam. Bersama dengan Sarah dan Hajar, Nabi Ibrahim a.s. kembali ke Tanah Kan’an, dan bermukim di daerah HEBRON. Daerah ini terletak tidak jauh dari YERUSALEM (tempat Al Aqsa berada). Pada periode masa yang sama, Allah SWT memerintahkan Nabi Luth a.s. untuk berhijrah ke daerah Sodom, untuk berdakwah ke kaum yang terkenal dengan amoralitasnya. 

Dalam usia yang beranjak senja, Nabi Ibrahim a.s. belum dikaruniai anak oleh Allah SWT. Sehingga, Sarah merasa sudah yakin bahwa dirinya mandul. Oleh karena itu, Sarah menyerahkan Hajar kepada Nabi Ibrahim a.s. untuk dijadikan istri. Dan beberapa lama kemudian, Hajar mengandung bayi yang kelak menjadi Nabi ISMAIL a.s. 

Banyak versi riwayat yang terjadi setelah itu. Namun yang jelas, riwayat-riwayat tersebut kemudian mencapai titik temu di satu hal, yaitu Nabi Ibrahim a.s. mendapat perintah dari Allah SWT untuk memindahkan Hajar dan bayi Nabi Ismail a.s. Maka, dimulailah periode hijrah Nabi Ibrahim a.s. yang terkenal itu: Mengajak Hajar dan bayi Nabi Ismail a.s. hijrah ke gurun tandus tidak berpenghuni yang kelak di kemudian hari disebut sebagai Mekkah, meninggikan pondasi Ka’bah, kemudian atas perintah Allah SWT meninggalkan Hajar dan bayi Nabi Ismail a.s. di tengah (saat itu) gurun tandus Mekkah. 

Setelah meninggalkan Hajar dan bayi Nabi Ismail a.s. di Mekkah, Nabi Ibrahim a.s. kembali ke Hebron, tempat tinggalnya bersama Sarah. Tidak usah diceritakan dan dibayangkan betapa pedihnya perasaan beliau, meninggalkan istri dan anak yang sudah diharapkan bertahun-tahun di tengah padang pasir gersang. Namun karena itu perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s. tetap melaksanakan dengan taat. 

Beberapa lama tinggal kembali bersama Sarah, Nabi Ibrahim a.s. mendapat berita bahwa mereka akan dikaruniai oleh Allah SWT seorang anak yang kelak akan menjadi nabi bernama Nabi ISHAQ a.s. Kisah tentang ini diabadikan antara lain dalam QS. 51 : 24-30.

Singkat cerita, keturunan Nabi Ibrahim a.s. di Mekkah (Nabi Ismail a.s.) kemudian menikah dengan wanita dari kabilah Jurhum. Kabilah ini adalah kabilah yang datang ketika Hajar dan Nabi Ismail a.s. sendirian di Mekkah, dan kemudian menetap disitu. Dari pernikahan ini, kemudian Allah SWT memperbanyak keturunan Nabi Ismail a.s. yang kemudian menjadi cikal bakal masyarakat Arab Adnan atau Arab Musta’ribah. Masyarakat Arab Musta’ribah ini merupakan salah satu cabang besar cikal bakal bangsa Arab. Sedangkan satu cabang besar yang lain adalah masyarakat Arab Qhahtan atau Arab ‘Aribah. Kabilah Jurhum berasal dari masyarakat Arab ‘Aribah ini. Mereka berasal dari Semenanjung Arab bagian selatan, yang sekarang dikenal sebagai wilayah YAMAN. 

Nah, dari keturunan Nabi Ismail inilah kemudian lahir kekasih kita, Rasulullah SAW. Nabi kita, rasul kita, yang kelak insyaAllah akan memberikan syafaat kepada kita di yaumul akhir. Allahuma sholli ‘alaa Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa alii Sayyidina Muhammad. 

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

--- Bersambung ke Bagian 2 insyaAllah


- Abd. Arief

------------------------


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

BAGIAN 2

Sementara di daerah Mekkah keturunan Nabi Ibrahim a.s. berkembang melalui jalur Nabi Ismail a.s., di Tanah Kan’an keturunan Nabi Ibrahim a.s. berkembang melalui jalur Nabi Ishaq a.s.

Nabi Ishaq a.s. memiliki putra yang kemudian menjadi nabi, bernama Nabi Ya’qub a.s. Sebagai seorang Nabi, Nabi Ya’qub a.s. diketahui sering bermunajat di tempat-tempat yang sepi pada malam hari.  Perjalanan di malam hari ini disebut dengan “Isra”. Oleh karena itu, Nabi Ya’qub a.s. kemudian dijuluki “Israel”, alias “yang senang berjalan di malam hari.” Namun, ada juga riwayat dalam versi yang berbeda, dimana kata “Israel” diterjemahkan sebagai “Hamba Allah SWT”, dari kata “Isra” yang artinya “hamba” dan “El” yang artinya Allah SWT, merujuk pada Nabi Ya’qub a.s. yang merupakan seorang hamba Allah yang saleh. Penyebutan nama Israel ini dalam bahasa Arab mirip dengan nama “Abdullah” yang kurang lebih juga berarti “Hamba Allah”.   Periode masa Nabi Ya’qub ini terjadi kurang lebih pada sekitar 1.800 tahun sebelum masehi. 

Pada masa ini, nama daerah Palestina belum muncul. Daerah tempat tinggal Nabi Ya’qub a.s. masih dikenal sebagai Negeri Kan’an. 

Di kemudian hari, Nabi Ya’qub a.s. dikaruniai oleh Allah SWT 12 orang putra. Kedua belas putra ini bernama Rubin, Syam’un, Lawway, YAHUDA, Zabulaon, Yasakir, Dann, Gad, Asyar, Naftali, YUSUF, dan Bunyamin.

Yusuf yang disebut di atas adalah yang dibuang oleh saudara-saudaranya (dalam kisah yang saya pahami, kecuali Bunyamin) di sumur, dan kemudian saudara-saudaranya berbohong kepada ayahnya (Nabi Ya’qub a.s.) bahwa Yusuf telah dimakan oleh hewan buas. Nabi Ya’qub a.s. mengetahui anak-anaknya berbohong, dan tenggelam dalam kesedihan dan tangis sehingga menjadi buta. Sementara Yusuf kemudian ditemukan oleh sekelompok musafir yang lewat, dijadikan budak, dan kemudian dijual di Mesir. 

Sampai periode ini, istilah Bani Israil belum muncul. Istilah Bani Israil baru muncul pada babak cerita berikutnya, ketika Yusuf telah menjadi Nabi, digoda oleh Zulaikha (istri pemimpin Mesir saat itu), difitnah, masuk penjara, mentakwilkan mimpi raja, dan akhirnya diangkat menjadi “Bendahara Kerajaan Mesir”. 

Setelah menjadi petinggi di Mesir, Allah SWT mempertemukan Nabi Yusuf a.s. dengan saudara-saudaranya; memaafkan mereka, dan kemudian mengundang Nabi Ya’qub a.s. (yang sembuh dari buta setelah diusap kain atau baju yang dititipkan oleh Nabi Yusuf a.s. melalui saudara-saudaranya) beserta seluruh anaknya (saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.) untuk tinggal di Mesir. Pada saat inilah kemudian kedua belas anak Nabi Ya’qub a.s. berkembang, dan di kemudian hari dikenal sebagai “Bani Israel”.

Di kemudian hari, setelah Nabi Yusuf a.s. wafat, keturunan Nabi Ya’qub telah berkembang menjadi 12 suku (sesuai jumlah anak Nabi Ya’qub a.s.) dan memiliki jumlah populasi yang signifikan. Tibalah suatu masa Mesir dipimpin oleh seorang raja yang kejam, yang tidak mengenal Nabi Yusuf a.s.

Pada periode masa ini, sekitar kurang lebih 1.500 tahun sebelum masehi, wilayah Tanah Kan’an dikuasai oleh bangsa Mesir. Di sebelah utara mereka terdapat pulau Kreta (saat ini terletak di wilayah YUNANI) yang dihuni oleh keturunan Nabi Ishaq a.s. melalui anak pertamanya yang bernama Aishu (Eshau) bin Ishaq a.s yang menikah dengan Mahalat, putri Nabi Ismail a.s. 

Masyarakat dari Pulau Kreta ini kemudian bermigrasi ke wilayah Mesir. Namun kehadiran mereka tidak dikehendaki oleh raja Mesir saat itu. Karena mengalami kesulitan dalam memerangi masyarakat Pulau Kreta yang bermigrasi tersebut, dicapailah kesepatan bahwa raja Mesir memerintahkan mereka untuk menempati kawasan Tanah Kan’an bagian selatan. Kawasan ini dikenal dengan nama PALAST. Di kemudian hari, nama ini berubah menjadi PALESTINA. Masyarakat Palast hidup membaur dengan masyarakat Kan’an, dan lama kelamaan melebur menjadi satu entitas budaya. Pada masa ini, peradaban dan jumlah penduduk di wilayah Palestina berkembang secara pesat. Masyarakat inilah yang kemudian dianggap sebagai periode awal Palestina. 

Kembali ke Bani Israel, pada periode masa ini, mereka sedang mengalami kondisi yang buruk. Bani Israel diperbudak dan disiksa di Mesir. Hingga pada suatu masa, raja Mesir alias Firaun (menurut sebagian kisah saat itu adalah Ramses II) bermimpi yang ditakwilkan bahwa akan ada keturunan Bani Israel yang mengambil alih kekuasaan sang raja. Maka Firaun pun memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir dari Bani Israel. Dari sinilah kisah Nabi Musa a.s. berawal. 

Pada periode masa ini, sekitar 1.500 tahun sebelum masehi, salah seorang yang saleh dari keturunan Nabi Ya’qub a.s. yaitu Imran bin Qahat bin Azar bin Lawi bin Yaqub, dikaruniai anak laki-laki oleh Allah SWT. Karena khawatir sang putra akan dibunuh oleh Firaun, istri Imran diberi ilham oleh Allah SWT untuk menghanyutkan sang putra di Sungai Nil. Lanjutan kisahnya kemudian menjadi terkenal dan cukup banyak dibahas dalam Al Quran. 

Sang putra yang dihanyutkan kemudian terbawa arus hingga ke pemandian istri Firaun, ASIYAH. Bayi sang putra dirawat oleh Asiyah, dengan berbagai kejadian yang kemudian mengikutinya: menarik jenggot Firaun, memakan bara api, membunuh orang Mesir, lari hingga bertemu dan menikah dengan putri Nabi Syu’aib a.s., mendapat wahyu, berguru kepada Nabi Khidir a.s., kembali untuk berdakwah kepada Firaun, mengalahkan para tukang sihir Firaun sehingga  para tukang sihir tersebut menjadi Mukmin, dan membuat Firaun marah. Sang putra tersebut adalah Sang Kalimullah, Nabi MUSA a.s. Sedangkan istri Firaun, Asiyah, merupakan salah satu dari 4 wanita sempurna yang disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai “Para Pemuka Wanita Ahli Surga”, selain Maryam, Fathimah az-Zahra, dan Khadijah, istri Rasulullah SAW. 

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ


--- Bersambung ke Bagian 3 insyaAllah.


- Abd. Arief

-------------------------------


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

BAGIAN 3

Episode selanjutnya adalah bagian yang paling penting dari awal mula kisah konflik Palestina – Israel yang saat ini sedang terjadi. Karena disinilah muncul klaim dari Bani Israel tentang “Tanah yang Dijanjikan”, yang kemudian menjadi alasan dan dasar mereka untuk berusaha menguasai Al Quds.

Sebelumnya, mari kita sepakati beberapa hal dulu terkait penyebutan nama dan istilah, untuk mengindari kesalahpahaman. 

Pertama, Tanah Kan’an, yang berada dalam wilayah Syam, adalah wilayah yang meliputi wilayah Palestina (secara keseluruhan, termasuk wilayah yang diduduki Israel). Wilayah ini sudah diduduki oleh Kabilah Kan’an dan Kabilah Yebus sejak 2.600 tahun sebelum masehi. Kabilah ini merupakan keturunan dari Nabi Nuh a.s. Untuk selanjutnya, kita akan menyebut daerah ini sebagai Palestina; karena pada periode masa Nabi Musa a.s. ini, wilayah Tanah Kan’an telah diduduki oleh Kabilan Kan’an dan Kabilah Yebus (keduanya keturunan Ham bin Nabi Nuh a.s.), serta Masyarakat Kreta (yang berasal dari keturunan anak Nabi Ishaq a.s. yang menikah dengan anak Nabi Ismail a.s.). Pembauran ketiga kabilah tersebut kemudian dikenal dengan sebutan “Palast” atau Palestina. 

Kedua, Yerusalem, adalah sebuah wilayah di Palestina yang di dalamnya terdapat komplek Al Aqsa. Yerusalem sering juga disebut sebagai “Al Quds”. Kaum yang pertama kali mendirikan Kota Yerusalem ini, menurut sebagian Riwayat, adalah Kabilah Yebus. Dan dalam pembahasan ini, untuk selanjutnya kita akan menggunakan sebutan Yerusalem.  

Ketiga, Al Aqsa, adalah sebuah kompleks suci seluas +/- 144.000m2. Kompleks ini terletak di Yerusalem, dimana di dalamnya terdapat sebuah bukit kecil yang kelak menjadi pijakan Rasulullah SAW saat melaksanakan Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Bukit kecil ini saat ini dilindungi oleh sebuah bangunan masjid dengan kubah berwarna emas yang sering menjadi symbol kompleks Al Aqsa. Namun, yang pertama kali membangun masjid di Al Aqsa diriwayatkan adalah Nabi Ya’qub a.s. Masjid ini kemudian kita kenal sebagai Masjidil Aqsa. Yang kemudian akan dibangun ulang menjadi lebih megah oleh Nabi Daud a.s.

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim meriwayatkan percakapan Rasulullah SAW dengan Abu Dzar r.a. terkait masjid apa yang pertama kali dibangun di bumi. Rasulullah SAW menjawab bahwa yang pertama dibangun adalah Masjidil Haram. Kemudian yang dibangun kedua adalah Masjid Al-Aqsha. Jarak pembangunan keduanya adalah 40 tahun.   

Setelah menyapakati nama dan istilah, mari kita kembali ke periode masa 1.500-1.400 tahun sebelum masehi. Pada masa ini, kembalinya Nabi Musa a.s. atas perintah Allah SWT ke Mesir untuk berdakwah kepada Firaun menambah ketidaksukaan Firaun kepada Bani Israel. Dalam QS. 23 : 45-46 disebutkan bahwa Allah SWT menguatkan Nabi Musa a.s. dengan saudaranya (dalam sebagian riwayat disebut sebagai kakaknya) yaitu Nabi Harun a.s. Sehingga saat itu, Bani Israel dipimpin oleh Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. 

Sampai pada suatu masa, Firaun berencana membunuh Nabi Musa a.s. dan Bani Israel. Dalam kondisi ini, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa a.s. untuk memimpin Bani Israel keluar dari Mesir, dan menuju ke Palestina. Perintah Allah SWT ini kemudian tertulis dalam QS 20 : 77, QS. 26 : 52-56, dan QS. 44 : 23. Kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israel memang menjadi salah satu kisah yang paling banyak diceritakan dalam Al Quran. Karena banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari kisah tersebut. 

Perintah hijrah inilah yang di kemudian hari DIJADIKAN ALASAN OLEH BANI ISRAEL UNTUK MENGUASAI PALESTINA. Bani Israel menyebut tanah Palestina sebagai “Tanah yang Dijanjikan”. Namun, apakah selanjutnya mereka memang pantas mendapatkan Tanah yang Dijanjikan tersebut? Mari kita nilai bersama-sama, dengan mencermati kisah selanjutnya. 

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

--- Bersambung ke Bagian 4  insyaAllah.


- Abd. Arief.

---------------------------


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

BAGIAN 4

Ketika Bani Israel keluar dari Mesir untuk menuju Palestina, mereka sebelumnya telah berkali-kali menyaksikan bukti kenabian Nabi Musa a.s. dalam bentuk mukjizat. Mulai dari tongkatnya yang dapat berubah menjadi ular sehingga mengalahkan para tukang sihir Firaun, tangannya yang dapat bercahaya, hingga berbagai bencana yang menimpa kaum Firaun; seperti taufan, belalang, kutu, katak, dan darah. Hal ini tertuang dalam QS. 7 : 130-134. 

Andaikan kita di posisi Bani Israel, dengan berbagai bukti yang nyata, mungkin kita sudah akan yakin dan keimanan kita kepada Allah SWT akan semakin tebal. Tapi apakah perasaan dan keyakinan yang sama kemudian juga muncul dalam hati mayoritas Bani Israel? Alhamdulillah, kita bersyukur karena Allah SWT menetapkan kita sebagai umat Rasulullah SAW, dan kita dapat memperoleh pembelajaran dari kisah Bani Israel. 

Dalam QS. 7 : 129, dijelaskan bahwa sebelum diperintahkan berhijrah ke Palestina, Bani Israel mengeluh karena sebelum Nabi Musa a.s. diutus sebagai nabi, mereka disiksa dan dianiaya oleh Firaun, namun setelah Nabi Musa a.s. diutus sebagai nabi, keadaan tidak berubah. Jadi menurut mereka, ada nabi atau tidak ada nabi sama saja, mereka tetap teraniaya. Nabi Musa a.s. membesarkan hati mereka dengan berkata, “Mudah-mudahan Tuhanmu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi; maka DIA AKAN MELIHAT BAGAIMANA PERBUATANMU.” 

Prof. Quraish Shihab menafsirkan bagian akhir ayat ini dengan penjelasan bahwa apabila kelak telah diberikan kemenangan dan kekuasaan oleh Allah SWT, apakah Bani Israil akan bersyukur dan memakmurkan bumi atau malah mengingkari nikmat-Nya dan melakukan kerusakan di bumi? Dengan ukuran itulah Allah SWT akan membalas segala perbuatan mereka di dunia dan di akhirat.

Ketika rombongan Bani Israel yang dipimpin oleh Nabi Musa a.s. keluar dari Mesir, mereka sempat berputar-putar dan tersesat. Dalam kebingungan tersebut, beberapa pemuka Bani Israel berkata kepada Nabi Musa a.s. bahwa dahulu mereka telah mengambil janji kepada Nabi Yusuf a.s. untuk membawa jasad Nabi Yusuf a.s. apabila mereka keluar dari Mesir. Mengingat masa Nabi Yusuf a.s. telah berlalu beberapa generasi sebelum Nabi Musa a.s., maka tidak banyak yang mengetahui lokasi makam Nabi Yusuf a.s., kecuali seorang wanita tua dari kalangan Bani Israel. 

Nabi Musa a.s. kemudian bertanya kepada wanita tua tersebut dimana makam Nabi Yusuf a.s. Namun, sang wanita tua tersebut memberi persyaratan kepada Nabi Musa a.s., yaitu dia bersedia menunjukkan makan Nabi Yusuf a.s. asalkan dia kelak akan menemani Nabi Musa a.s. di surga. Nabi MUSA a.s. hendak menolak permintaan tersebut, namun kemudian turun peritah Allah SWT untuk mengabulkan permintaan wanita tua tersebut. 

Wanita tua tersebut kemudian mengarahkan orang-orang menuju ke sebuah danau, dan memerintahkan orang-orang untuk mengeringkan danau tersebut. Kemudian, dia menunjukkan sebuah lokasi di dalam danau tersebut dan memerintahkan orang-orang untuk menggalinya. Maka, tampaklah jasad Nabi Yusuf a.s., dan jasad ini kemudian dibawa oleh Bani Israel untuk ikut dihijrahkan ke Palestina. Kisah ini mashyur dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Hakim. 

Setelah membawa jasad Nabi Yusuf a.s., rombongan Nabi Musa a.s. dan Bani Israel menemukan jalan, dan singkat cerita, mereka dikejar pasukan Firaun hingga tersudut di tepi Laut Merah. Disinilah salah satu mukjizat yang terkenal dari Nabi Musa a.s. terjadi. Allah SWT memerintahkan Nabi Musa a.s. untuk memukulkan tongkatnya ke air, dan seketika lautan terbelah menjadi jalan yang bisa dilewati oleh rombongan Bani Israel. 

Dalam hadits riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah SAW mengajarkan doa yang dibaca oleh Nabi Musa a.s. saat menyeberangi lautan, yaitu “Allahumma lakalhamdu wa ilaikal musytaka wa antal musta'anu wala haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim.” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepada-Mulah tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Zat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung). 

Kisah selanjutnya kita sudah hapal. Bani Israel berhasil menyeberangi Laut Merah, dan pasukan Firaun yang mengejar kemudian tenggelam dan musnah. Maka berakhirlah episode penyiksaan Bani Israel oleh Firaun. Kisah kemudian berlanjut ke sisi seberang Laut Merah, yaitu di daerah antara Suez dan Sinai (saat ini daerah ini menjadi PERBATASAN ANTARA MESIR dan PALESTINA). 

Rombongan Bani Israel yang sedang berhijrah ke Tanah yang Dijanjikan, kemudian bergerak menuju ke Palestina melalui daerah Sinai (sekarang berada di wilayah MESIR). Dalam perjalanan ini, mereka berhari-hari tidak mendapatkan air. Kemudian, dalam kondisi kehausan, mereka meminta air kepada Nabi Musa a.s. Lalu turun perintah Allah SWT agar Nabi Musa a.s. memukulkan tongkatnya ke sebuah batu. Dan dari batu itu, kemudian memancar 12 mata air. Dimana, masing-masing kabilah mendapatkan mata airnya sendiri-sendiri. Termasuk disini Kabilah Yahuda, anak keturunan Yahuda, yang kemudian dinisbatkan sebagai asal-usul nama Kaum YAHUDI. 

Rahmat Allah tidak hanya sampai disitu saja. Dalam QS. 7 : 160, dijelaskan pula bahwa selain mata air, Allah SWT juga menaungi Bani Israel dengan awan (sehingga mereka tidak tersengat panas) dan menurunkan makanan yaitu Manna dan Salwa. Ada beberapa riwayat mengenai apa yang dimaksud dengan Manna dan Salwa tersebut. Namun, secara umum disebutkan bahwa Manna dan Salwa adalah makanan yang lezat dan manis, yang dapat ditemukan di sekitar tempat berdiam sementara Bani Israil di sekitar Sinai. Sungguh, Allah SWT telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. 

Namun, apakah bukti-bukti itu menjadikan Bani Israel tambah beriman? Ada sebuah kisah menarik dari episode ini. 

Ada suatu masa ketika Nabi Musa a.s. dan Bani Israel memasuki wilayah Sinai, setelah mereka BARU SAJA mengalami mukjizat laut terbelah untuk mereka, mereka mendapati suatu kaum yang menyembah berhala. Sebagian kaum Bani Israel kemudian meminta Nabi Musa a.s. membuatkan bagi mereka sesembahan seperti yang dimiliki oleh kaum penyembah berhala! Kejadian ini diabadikan dalam QS. 7 : 138. Dan dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Musa a.s. menyebut Bani Israel sebagai “orang-orang yang bodoh.” 

Pembangkangan Bani Israel tidak hanya sampai disitu. Beberapa saat setelah kejadian itu, Nabi Musa a.s. diperintahkan Allah SWT untuk pergi ke Gunung Thur Sina. Nabi Musa a.s. pergi selama 40 (empat puluh) hari, dan memerintahkan Nabi Harun a.s. untuk memimpin Bani Israel. Dalam kepergian ini, Nabi Musa a.s. mendapat karunia dapat berbicara langsung kepada Allah SWT (sehinga dijuluki Kalimullah), dan mendapat wahyu berupa “10 Perintah” yang ditujukan kepada Bani Israel. Kesepuluh perintah ini dijelaskan dalam QS. 6 : 151-153. 

Setelah menerima 10 Perintah  itu, Nabi Musa a.s. kembali ke tempat Bani Israel bermukim di Sinai, dan… Nabi Musa a.s. mendapati Bani Israel SEDANG MENYEMBAH PATUNG ANAK SAPI! 

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

--- Bersambung ke Bagian 5  insyaAllah.


- Abd. Arief.

---------------------------------


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

BAGIAN 5

Nabi Musa a.s. marah besar dan menarik rambut Nabi Harun a.s., karena menyaksikan kaumnya (Bani Israel) yang sudah menyembah patung anak sapi, padahal hanya ditinggal selama 40 hari dan ada Nabi Harun a.s. di tengah-tengah mereka! Nabi Harun a.s. menyampaikan bahwa Bani Israel menganggap Nabi Harun a.s. lemah dan mereka hampir membunuh Nabi Harun a.s. Mendapati jawaban Nabi Harun a.s., Nabi Musa a.s. kemudian berdoa memohon ampunan kepada Allah SWT untuk dirinya dan Nabi Harun a.s.  dan memohon agar dimasukkan ke dalam rahmat Allah SWT. Kisah ini tertulis rinci dalam QS. 7 : 150-151. 

Kemaksiatan yang dilakukan oleh Bani Israel ini merupakan kemaksiatan yang terbesar (menyekutukan Allah SWT), sehingga Allah SWT menghukum mereka dengan menjadikan bunuh diri sebagai bentuk taubat mereka. Syariat ini tertulis dalam QS. 2 : 54. Dan bisa ditebak, Bani Israel menolak jalan taubat tersebut. Ketika Nabi Musa a.s. berkata kepada Bani Israel “Dengarkan dan taatlah,” Bani Israel menjawab dengan “Kami mendengar dan kami durhaka.” 

Ancaman Allah SWT kemudian datang. Gunung Thur Sina tiba-tiba terangkat di atas mereka. Kejadian ini tertulis dalam QS. 7 : 171. Nabi Musa a.s. kembali berkata kepada Bani Israel, “Dengarkan dan taatlah.” Dan melihat gunung itu seakan-akan sudah akan menimpa kepala mereka, akhirnya mereka berkata “Kami mendengar dan kami taat.” 

Setelah itu, Nabi Musa a.s. memilih 70 orang terbaik dari Bani Israel untuk memohon taubat pada waktu yang telah ditentukan oleh Allah SWT di Gunung Thur Sina. Seolah tidak jera setelah sebelumnya diancam akan ditimpa oleh Gunung Thur Sina, ketujuhpuluh orang ini mengatakan “… Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,…” (QS. 2 : 55). Seketika itu, atas kekurangajaran ketujuhpuluh orang terbaik dari Bani Israel itu, Allah SWT menimpakan sambaran halilintar kepada mereka dan matilah ketujuhpuluh orang itu. 

Nabi Musa a.s. kemudian bermunajat kepada Allah SWT dan memohon ketujuhpuluh orang itu dihidupkan kembali, karena agar dapat menjadi saksi bagi kaumnya. Nabi Musa a.s. berharap dengan saksi tersebut, Bani Israel akan beriman kepada Allah SWT. Allah SWT kemudian menghidupkan kembali ketujuhpuluh orang itu demi memuliakan Nabi Musa a.s. Kejadian ini menjadi mukjizat kembali bagi Nabi Musa a.s., namun setelah kejadian ini, dengan mukjizat yang datang silih berganti, Bani Israel bukannya beriman, namun kian membangkang dan kian ingkar. 

Setelah beberapa lama berada di Gurun Sinai, tibalah Nabi Musa a.s. dan Bani Israel di gerbang Tanah yang Dijanjikan. Dalam QS. 5 : 21, Allah SWT memerintahkan Bani Israel untuk masuk ke “ardhul muqoddas.” Prof. Quraish Shihab menafsirkan tempat ini sebagai Baitul Maqdis, atau Yerusalem. Namun yang terjadi kemudian adalah kembali terjadi pembangkangan yang luar biasa dari Bani Israel. 

Bani Israel yang sudah mendapatkan sangat banyak rahmat dari Allah SWT saat itu menolak perintah untuk masuk ke Tanah yang Dijanjikan. Karena mereka enggan untuk berperang melawan penghuni-penghuni Yerusalem yang digambarkan sebagai “kuat” dan “kejam”. Mereka hanya mau masuk ke Tanah yang Dijanjikan jika penghuni Yerusalem sudah keluar dari sana. 

Tidak cukup itu, Ketika Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun menasehati mereka, dengan menyampaikan bahwa Allah SWT akan menolong mereka, Bani Israel malah semakin menantang dengan mengatakan bahwa SAMPAI KAPANPUN MEREKA TIDAK AKAN MEMASUKINYA selama masih ada penghuni Yerusalem tersebut, dan malah MENYURUH NABI MUSA a.s. BERPERANG BERDUA SAJA DENGAN ALLAH SWT. Nanti kalau Nabi Musa a.s. dan Allas SWT sudah menang, mereka baru mau masuk ke Tanah yang Dijanjikan. Hahaha…. Saya nulisnya sampai speechless… 

Akibat pembangkangan ini, Allas SWT menimpakan hukuman yang sangat berat kepada mereka, yaitu menghukumi mereka dengan status orang “fasik” dan melarang mereka untuk memasuki Yerusalem hingga 40 tahun. Selama masa itu, mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Kisah ini tertulis dalam QS. 5 : 21-26. Setelah itu, mereka terlunta-lunta di luar Yerusalem. Padahal, lokasi mereka dengan Yerusalem hanya dihalangi oleh sebuah gunung batu merah. Namun selama 40 tahun, mereka tidak berhasil menemukan jalan menuju Yerusalem. 

Sampai disini mungkin sudah bisa kita tarik kesimpulan, bahwa apakah mereka masih berhak mengklaim tanah Yerusalem sebagai “Tanah yang Dijanjikan” ? 

Selain pembangkangan di atas, sebenarnya masih banyak kisah yang lain terkait Bani Israel. Misalnya, ketika terjadi pembunuhan diantara mereka dan mereka menanyakan kepada Nabi Musa a.s. mengenai siapakah yang melakukan pembunuhan, dan kemudian oleh Nabi Musa a.s. mereka diperintahkan untuk memotong sapi betina atas perintah Allah SWT, namun mereka malah berusaha menghindar dengan mengajukan pertanyaan demi pertanyaan yang semakin lama semakin aneh. Kisah ini tertulis dalam QS. 2 : 67-73. 

Pembangkangan dan sikap keras kepala Bani Israel terus terjadi, dan dalam masa pembangkangan tersebut tiba suatu hari dimana Allah SWT mewafatkan Nabi Harun a.s. 

Di tengah masa kebingungan tersebut, Allah SWT mengutus Malaikat Izrail untuk memberikan pilihan kepada Nabi Musa a.s. apakah ingin terus hidup atau ingin diwafatkan oleh Allah SWT. Nabi Musa a.s. kemudian meminta kepada Allah SWT agar diwafatkan di dekat Baitul Maqdis. Malaikat Izroil kemudian mencabut nyawa Nabi Musa a.s. di deket Baitul Maqdis (Yerusalem). 

Sehingga hingga wafatnya Nabi Harun a.s. dan Nabi Musa a.s., beliau berdua belum diijinkan Allah SWT untuk memasuki Yerusalem, atau Baitul Maqdis. 

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

--- Bersambung ke Bagian 6  insyaAllah.


- Abd. Arief.

----------------------------------------------


Yogyakarta, 25 Mei 2021

Salam,


Bahrul Fauzi Rosyidi



Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Catatan Statistik Terapan Lengkap. Sebuah Refleksi Belajar

#Catatan Matematika Terapan Lengkap. Sebuah Refleksi Belajar