Membangun Pengetahuan Industri 4.0


Tidak tahu, tapi inilah yang sekarang saya rasakan dalam hati dan pikiran saya. Bahwa jadilah orang yang bermanfaat, jangan bermimpi menjadi orang yang sukses. Bermanfaat, membuat kita selalu berpikir cara menajamkan pikiran kita untuk bisa maslahat kepada orang lain dan banyak orang, bukan mengabiskan semua waktu hanya menebangi ‘pohon2’ masalah di dunia. Tanpa ‘kapak tajam’ yang bisa dipergunakan. Kenapa saya berkata demikian? Karena faktanya, kita hidup ini hanya bergelut dengan masalah2 dan bayangan2 masalah, yang faktanya hanya tinggal di angan, ia hanya menakuti dan tidak pernah terjadi.

Memang faktanya kita harus menyongsong dan menghadapi era industri 4.0, dan banyak penyesuaian terkait tuntutan kecanggihan dan adaptabilitas teknologi dan digital, yang intinya disuruh bisa menyiapkan diri untuk bisa beradaptasi. Industri 4.0 banyak menekankan pada pola keekonomian digital, kecerdasan buatan atau artificial intelegence, big data, robotic dan lain sejenisnya hal tsb. Ada yang mengatakan ini sebagai era inovasi disruptif. Yang artinya, kemungkinan besar bahwa fungsi pekerjaan yang dulu ditangani oleh tangan/ tenaga manusia akan segera digantikan dengan mesin. Tujuannya jelas hanya satu, yaitu hasil harus lebih bisa akurat (valid dan reliable) serta lebih efisien biayanya.

Ini saya melihat peluang/potensi, namun sekaligus juga ancaman. Peluang bentuknya bagaimana? Peluang bentuknya adalah seperti kesempatan kualitas hidup manusia yang akan meningkat, entah itu pada kompetensi, lapangan kerja, dan lain sebagainya. Ancaman berupa apa? Berupa habisnya fungsi2 manusia didalam hidup sehari-harinya.

Sama halnya dengan pengetahuan industri 4.0, bagi saya ini hanya menakut2i seakan-akan semuanya harus tergantikan oleh mesin dan teknologi. Mereka lupa bahwa kreativitas dan leadership tidak bisa digantikan dengan mesin. Didalam sebuah seminar, Jack Ma pernah bilang bahwa soft skill dan keterampilan independen pada generasi muda haruslah dibangun. Entah itu berupa skill berpikir independen, kreativitas, tekanan membangun inovasi/ sistem, kerjasama, empati/keperdulian kepada sosial atau orang lain, dan leadership. 

Kabar baiknya adalah kreativitas, skill berpikir independen, membangun inovasi, kerjasama, empati/keperdulian kepada sosial atau orang lain, dan leadership tidak bisa digantikan dengan mesin. Kreativitas, leadership dan segala hal diatas tadi itu bukti bahwa manusia tetap tidak bisa dibandingkan dengan mesin. Menunjukkan bahwa kita tidak mungkin digantikan oleh mesin, mesin harus tetap dibawah kontrol leadership dan kebijaksaan manusia.

Saya melihat itulah kemampuan2 yang harus diasah dan kita harus bisa pintar2 memadukan hal tsb sehingga tetaplah manusia yang lebih unggul, gak apa2 teknologi dan digital terus berkembang pesat, tapi manusia haruslah yang memimpin perubahan, proses kecerdasan manusia, dan perkembangan ini harus tetap dibawah tangan manusia.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan Dilindungi Hak Cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Catatan Statistik Terapan Lengkap. Sebuah Refleksi Belajar

#Catatan Matematika Terapan Lengkap. Sebuah Refleksi Belajar