Bermain Unggul Di Industry 4.0


Sekarang dunia sudah masuk di industri 4.0 atau revolusi industri keempat. Hal yang harus disadari disitu adalah digitalisasi, teknologi, fleksibilitas bisnis jasa (business services), dan inovasi. Makanya dari awal, kita sudah harus mau menyisihkan dana/kapital untuk berinvestasi di teknologi informasi dan fintech agar bisa menjadi pemain bisnis yang lebih unggul.

Lalu skenarionya bagaimana? Skenarionya adalah dengan joint management atau partnership dengan perusahaan-perusahaan yang berkompeten di bidang ini. Kita buat komitmen yang saling win2 solution.

Saya melihat ini harus bisa menjadi sebuah ajang dan peluang. Apalagi aplikasi sekarang langsung bisa dengan mudah diunduh lewat cloud services atau digi-business. Oleh karena itu, menjauhi bisnis ini sama saja menjauhi masa depan. We have to face it, kita harus menghadapi itu. Karena revolusi digital bukan lagi sebuah keniscayaan.

Lalu tantangannya apa? Tantangannya ada di 7 hal. Yaitu (a) Bentuk kompetisi yang semakin terbuka; (b) industri hulu dan antara (upstream & midstream) yang tidak berkembang ditandai dengan bahan baku dan komponen kunci yang sangat tergantung sekali dengan impor. Ini saya pikir sangat berbahaya. Untuk industri chemical, ada lebih dari 50% industri petrokimia, 74% logam dasar, dan semua sektor penting di bidang elektronik dan otomotif yang harus impor dari luar negeri; (c) lalu tidak optimalnya sistem zonasi industri yang komprehensif. Contoh, migas vs petrokimia; (d) trend global sustainability yang sudah tidak mungkin lagi dihindari. Artinya, produksi dan ekspor produk ramah lingkungan sekarang sudah menjadi kewajiban; (e) industri UMKM kita yang masih sangat tertinggal; (f) infrastruktur digital kita yang tidak memadai dan platform digital kita yang tidak optimal; (g) financing atau pendanaan domestik dan teknologi yang jumlahnya sangat terbatas; (h) masalah ketenagakerjaan kita yang masih amatir. Secara nominasi, kita merupakan negara dengan angkatan kerja terbesar ke-4 di dunia dengan kemampuan/ talenta/ skill yang rendah.

Koreksinya adalah di kualitas pendidikan, jaringan inovasi, pengembangan berbasis public spare yang dana alokasinya sangat rendah. Untuk dana pendidikan kita saja, sekarang hanya US$ 114/kapita.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Catatan Statistik Terapan Lengkap. Sebuah Refleksi Belajar

#Catatan Matematika Terapan Lengkap. Sebuah Refleksi Belajar