Mengurai Kesemrawutan Holding Company
Dalam mengelola holding company, satu hal penting yang harus diperhatikan. Apa itu? Tata kelola.
Tata kelola berkaitan dengan tata kelola organisasi, pun dengan tata kelola operasional. Sehingga yang terjadi jangan sampai struktur organisasi 'menjadi gemuk dan berlemak', baik secara vertikal maupun horizontal. Entah pada agecy cost (potensi konflik antar stakeholder stockholder), biaya transaksinya, pola pemasaran, maintenance jaringan bisnis dan konsumen (public relationship), budaya organisasi, ataupun reorientasi core competence (find new market) unit-unit bisnis yang kita miliki dalam holding company.
Jangan sampai seperti PT. Pertamina yang sudah punya 28 anak perusahaan dan 130 cucu perusahaan tapi persoalan efisiensi dan efektivitas dari hulu ke hilir (upstream downstream) berantakan. Mending kita banyak belajar dari Astra Group yang punya 190-an anak perusahaan dan sinergitas hulu-hilirnya sangat efisien, terintegrasi, stabil, dan bagus. Kita butuh pola bisnis dan manajemen seperti ini.
Kenapa Pertamina bisa seperti itu? Jawab: jelas karena hirarki struktur organisasi yang terlalu gemuk dan panjang membuat koordinasi dan komunikasi antar unit bisnis seperti tidak ada cocok-cocoknya sama sekali. Setelah itu, dooor! Agency cost antar stockholder dan stakeholder meledak disana dimari.
Persoalannya bukan lagi stabilitas dan efektivitas, tapi sudah masuk ke moral hazard. Bagi pemegang induk perusahaan (holding), akan sangat sulit mengevaluasi anak2 perusahaan/unit2 bisnis karena kadang memiliki tujuan yang berbeda. Jadi dari sisi standarisasi dan visi perusahaan saja sudah berlainan. Apalagi jangan sampai ada kasus, anak perusahaanya/unit bisnisnya sudah ada yang listing/IPO di bursa efek tapi holding company-nya belum, ngalamat bakal sering 'tukaran/gelut' antar big boss yang sebenarnya dengan 'big boss' persepsi publik.
Oleh sebab tsb, sinkronisasi didalam budaya organisasi sangatlah dibutuhkan dan penting. Karena organisasi memudahan, bukan menyulitkan.
Makanya kita harus antimainstream didalam pengelolaan dan pencarian strategi dan solusi. Kalau katanya Albert Einstein, adalah kebodohan jika kita melakukan hal yang sama berulang kali dan menunggu hasil yang berbeda.
Tidak ada yang salah dari sebuah masalah, hanya cara kita yang salah didalam mindset dan pensikapan masalah saja yang membuat semua ini jadi masalah. Kita harus positif! Kita harus optimis!
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan Dilindungi Hak Cipta!
Komentar
Posting Komentar