Cara Kita (Investor) Melakukan Diversifikasi Investasi Lintas Negara, Sebuah Pelajaran Yang Saya Ambil Dari Amatan Pribadi Dan Kawan2 Strategik Manajemen Saya


Salah satu elemen penting dalam berbisnis dan mengembangkan bisnis menurut saya adalah diversifikasi (portfolio) dan investasi berfokus. Investasi dan pengembangan usaha tentu penting untuk kemajuan bangsa. Karena seberapa besar investasi yang ditanamkan baik oleh kalangan pebisnis/pengusaha dalam negeri dan luar negeri adalah yang dominan membeirkan kontribusi positif bagi kekokohan pembangunan bangsa. Sehingga bagi saya, antara pemerintah dan pengusaha harus/perlu sekali berjalan beriringan.

Inti berbisnis ya menurut saya 2 hal, yaitu adanya peluang rasional mendapatkan return/gain dibandingkan resiko yang ditawarkan. Kalau peluang return/gain terbukti empiris lebih tinggi dibandingkan resiko, artinya itu peluang bisnis yang segera harus diambil (golden opportunity). Kalau peluang return/gain linier atau sama dengan resiko yang ditanggung, artinya bisnis ini sama seperti bisnis umumnya lainnya. Kalau peluang return lebih rendah dibandingakn resiko yang bakal ditanggung, ini artinya Anda mau bunuh diri ya, kok mau-maunya masuk di bisnis yang pendapatannya jeplok dibandingkan resiko yang diambil. Berarti Anda tidak rasional.

Kecuali, ini keputusan sosial, keputusan yang non-profit, yaa..cincai-cincai lah, itu filantropy yang harus kita lakukan sebagai mahluk sosial yang punya value (nilai-nilai luhur) dan keagamaan yang harus memang diperjuangkan.

Tapi kembali lagi, kalau itu pure 100% bisnis, ya logikanya Anda harus pintar memilih, apakah bisnis tsb lebih menguntungkan secara return/gain dibandingkan resiko atau tidak sama sekali?! Kalau tidak. Cut! jangan mau pilih bisnis yang kayak begituan.

Lalu apa saja jenis investasi yang menguntungkan dan bagaimana cara kita mencari peluang untuk menyebar investasi kita di lintas negara dengan hasil yang pasti menguntungkan, apalagi sekarang di eranya MEA (masyarakat ekonomi Asean)? Banyak sekali jenis investasi yang menguntungkan di luar negeri, seperti investasi di sektor bisnis yang sedang membangun (eksisting), investasi sektor properti konstruksi infrastruktur, bisa apartemen, jalan tol, bandara, dermaga, perumahan, industri semen, minyak, dan lain sebagainya. Kalau perlu kita ekspansi ke luar negeri, dan mengakuisisi perusahaan berkelas disana.  

Berdasarkan presentasi dari Bapak Rangga Almahendra, salah satu lulusan Doktoral di Universitas Vienna, Austria, dan merupakan Dosen pakar bidang Strategic Management di MM FEB UGM menyebutkan bahwa ada 21 industri prospektif yang patut untuk dibangun bisnisnya dan diinvestasi, yaitu: (a) industri drugs (obat-obatan) dengan ROE/return on equity 20,3%; drugs mahal karena nilai paten obat-obat ini sehingga pebisnis lainnya yang ingin mengadopsi inovasi ini harus membayar kepada sang pemilik paten; (b) industri food and kindred products, bisnis sektor kebutuhan bahan pokok selalu dibutuhkan selama di bumi ini masih ada manusia yang hidup, bisnis ini dengan ROE/return on equity sebesar 14%; kalau istilah orang Jawa, “sandang, papan, pangan” plus saat ini ditambah “kesehatan”, katanya (versi Pak Hargo pimpinan inkubasi bisnis rektorat UGM) kalau para pebisnis mau bisnis di 4 sektor itu, pasti ada saja konsumen yang mau beli. Pasti ada!; (c) industri -- of which tobacco products, jelas ya, ini bisnis rokok, ROE bisnis ini adalah 19,6%; (d) industri instruments and related products, contoh bisnis ini seperti instrument control toolbox yang bisa connect ke MATLAB, atau produk-produk yang bersifat science instrument seperti high power Q swiched green lasers, nanochemical characterization system; atau produk-produk intrument yang berfungsi sebagai measurement, display dan control, dll. Jenis bisnis ini menawarkan ROE sebesar 11,2%; (e) industri electrical and electronic equipment dengan ROE sebesar 11,0%; (f) industri rubber and misc. plastics products dengan ROE sebesar 10,7%; (g) industri printing and publishing dengan ROE sebesar 10,6%; (h) industri fabricated metal products dengan ROE sebesar 9,9%; (i) industri aircraft, guided missiles, and parts, nah ini lebih banyak industri yang digeluti Pak Habibie yaitu dengan ROE sebesar 9,7%; (j) industri petroleum and coal products dengan ROE sebesar 9,6%; (k) industri retail trade corporations dengan ROE sebesar 8,9%; (l) industri paper and allied products dengan ROE sebesar 8,5%; (m) industri textile mill products dengan ROE sebesar 7,6%; (n) industri wholesale trade corporations dengan ROE sebesar 6,5%; (o) industri stone, glass and clay products dengan ROE sebesar 6,8%; (p) industri machinery, exc. electrical dengan ROE sebesar 6,0%; (q) industri nonferrous metals dengan ROE sebesar 5,6%; (r) industri motor vehicles and equipment dengan ROE sebesar 5,5%; (s) industri iron and steel dengan ROE sebesar 2,6%; (t) industri mining corporations dengan ROE sebesar 2,7%; (u) dan industri terakhir adalah industri airlines, yaitu industri penerbangan yang mahal sekali biaya bahan bakarnya, pesawatnya, parkir pesawatnya, maintenance, dan resiko-resiko unsystematic risk lainnya; walaupun bisnis ini tergolong bisnis yang jarang diminati orang, tapi ternyata ada saja orang yang bisa survive dari bisnis ini, AirAsia menunjukkan ia mampu compete didalam persiangan global dan memenangkan stigma bahkan tahayyul sulitnya survive berbisnis di bidang airlines, bisnis ini menduduki ROE sebesar 1,1%.

Tentu kita sangat membutuhkan terobosan, inovasi, dan kalau perlu reformasi birokrasi yang fair agar kepentingan negara dan pengusaha dapat berjalan bersamaan. Jangan hanya berpihak pada pengusaha asing, tapi pada pengusaha lokal domestik sendiri malah disia-sia. Jangan gitu dong. Apalagi saat ini terhitung sudah ada 720 perusahaan Indonesia yang ekspansi di ASEAN.

Mau tau contohnya? Nih! Yang dilakukan pemerintah kita demi meningkatkan jumlah besaran investasi asing di Indonesia, pemerintah banyak melakukan pendekatan (approach) langsung dan tidak langsung salah satunya memberikan perlindungan dan insentif pajak kepada para perusahaan-perusahaan besar asing yang akan berdiri di Ngendonesia.

Jelas sikap ini 180 derajat berbeda perlakuannya kepada pengusaha lokal domestik. Kita para pengusaha lokal yang jelas-jelas mau investasi lintas negara ke luar negeri “MALAH TIDAK DIATUR DAN DILINDUNGI”. Padahal investasi di luar negeri jauh lebih menjanjikan dibandingkan dalam negeri. Contoh, Jepang, pengusaha-pengusahanya membangun kantor pusat di Jepang tapi pabrik-pabrik operasionalnya di negara-negara pusat konsumen dan bahan baku murah mereka.

China, sekarang malah sudah melakukan himbauan keras kepada para pengusaha lokal/domestiknya untuk melakukan investasi di luar negeri yang akan didukung kuat oleh pemerintah. China sampai-sampai membentuk The People’s Bank of China yang menyediakan fasilitas kredit secara tahunan kepada siapapun yang mau berinvestasi di luar negeri, dengan catatan, ia mengeksploitasi sumber daya (resources) negara lain yang dibutuhkan China/Tiongkok saat ini untuk membangun perekonomiannya. Saya fikir itu cerdas, tidak masalah, dan win-win solution.

Begitu juga yang dilakukan oleh Ingris, Malaysia, India dan negara-negara lainnya. Ingris, dia bahkan membuat ECGD, ini adalah asuransi usaha investasi di luar negeri bagi para rakyat pengusahanya. ECGD berfungsi jika terjadi kendala birokrasi dan politik di negara tujuan investasi maka pemerintah Ingris akan terlibat langsung dan mau campur tangan membantu perusahaan asal ingris agar menang dan tetap lancar berinvestasi di lintas negara di dunia. Memang seakan-akan menjadi menjadi sewenang-wenangnya, tapi untuk kedaulatan sebuah negara, hal tsb wajar dilakukan didalam politik dan diplomasi. Satu garis substansi yang saya garis bawahi, bahwa tindakan pemerintah tsb memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi pengusaha lokalnya untuk berinvestasi di lintas negara (luar negeri) dan tetap loyal kepada negara kesatuannya.

Semoga kelak kita bisa melakukan itu, Amiiiennn amiin ya robbal alamin, dan bisa menjadi pilar pemersatu umat dan bangsa dalam competitiveness-nya di bidang ekonomi dan pembangunan. Aminn amiin ya robbal alamin.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Catatan Statistik Terapan Lengkap. Sebuah Refleksi Belajar

#Catatan Matematika Terapan Lengkap. Sebuah Refleksi Belajar